So beautuful view in the world

So beautuful view in the world

Minggu, 26 Februari 2012

Simfoni Hitam♪♫❤♫♪ Part 2


            “Tak bisakah kau, sedikit saja dengar aku? Dengar simfoniku, simfoni hanya untukmu….” ucap Selvia lirih. Dirinya tak bisa berhenti mengangis. Tak rela, tak sanggup ditinggal olehnya.
            Diwaktu yang sama Reynard sedang berjalan menuju ruang music bermaksud untuk melatih permainan biolanya. Tiba-tiba langkahnya terhenti. Dia merasakan ada sesuatu yang aneh.
            “Suara siapa itu? “ tanya Reynard pada dirinya. “ Juga ada yang memainkan lagu itu dengan piano. Siapa yang memainkannya?” tanya Reynard lagi. “Gue harus tau siapa dia!” teriak Reynard dalam hati penasaran. Hatinya merasakan sesuatu pada alumna music itu. Reynard sudah tidak sabar lagi ingin mengetahui siapa yang bernyanyi itu. Dengan hati yang tak sabaran, Reynard mempercepat langkahnya. Tidak terasa, langkahnya telah membawanya sampai diruang music. Reynard tidak langsung membuka pintu dan masuk kedalam. Tapi, dia berdiam sejenak sambil mendengarkan suara itu lebih jelas lagi.
            “Dia membawakan lagu itu dengan penuh perasaan.” ucap Reynard tulus dari hatinya. Dengan penuh keyakinan, perlahan Reynard membuka pintu dengan sangat pelan. Sambil menikmati alunan music itu Reynard terus melangkah menuju keasal suara. Reynard terkejut begitu mengetehui Selvia yang memainkan alunan lagu itu.
            ‘Apa? Jadi, dia yang memainkannya?” batin Reynard. Tak terasa, Reynard sudah berada tepat dibelakang Selvia. Tapi Reynard merasakan seseuatu. Suara tangis Selvia!
            ‘Dia memainkannya sampai menangis? Cewek yang menarik’ ucap Reynard dalam hati. Reynard langsung mengambil sebuah saputangan dari saku celananya. Dengan lembut, Reynard memegang bahu Selvia dengan telapak tangan kirinya lalu memberikan saputangan itu dengan tangan kanannya. Selvia terkejut mendapatkan sepasang tangan memegang bahunya dan memberikan saputangan padanya.
            “Hapus dulu air mata lo” ucap Reynard yang masih memegang saputangan. Selvia tetap bergeming, dia masih terkejut akan hal itu. “Hei…” ucap Reynard sambil melambai-lambaikan tangan kirinya kedepan wajah Selvia.
            “Eh, i-iya… makasih” ucap Selvia yang tampaknya sudah sadar langsung mengambil saputangan itu dari Reynard.
            “Sama-sama” balas Reynard sambil tersenyum tulus.
            ‘Ya ampun! Senyumnya manis banget!’ batin Selvia. Selvia pun membalas dengan senyuman yang tak kalah dari Reynard. Reynard yang melihat Selvia tersenyum langsung terpesona akan senyumnya.
            ‘Ya Tuhan! Ternyata kalo dia lagi tersenyum cantik banget!’ teriak Reynard dalam hati.
 Selvia langsung memakai saputangan itu lalu mengusapkannya kewajahnya yang basah karena airmatanya. Selesai menghapus wajahnya, dia langsung memberikannya kembali kepada pemiliknya, Reynard.
“Makasih banget ya…” ucap Selvia berterimakasih pada Reynard.
“Iya sama-sama. Ternyata lo cantik juga ya kalo lagi senyum, beda banget waktu lo lagi marah.” Ucap Reynard yang tidak sengaja mengeluarkan isi hatinya keluar dari mulutnya begitu saja.
“Apa lo bilang?”
“Eh, nggak…nggak…nggak… bercanda gue”
“Gila lo!”
“Oh iya, lagu yang tadi elo mainkan tadi barusan Simfoni Hitam kan?
 ‘Astaga, dia tahu lagu itu!’ teriak Selvia dalam hati.
“Iya bener, kok lo bisa tau? Jarang banget cowok yang denger apalagi sampai tahu lagu ini” ucap Selvia
“Gue suka sama lagu itu, salah ya?” tanya Reynard
“Nggak sih, tapi lo kan cowok. Nggak cocoklah.”jawab Selvia
“Suka-suka gue dong! Mau suka, mau nggak….” bantah Reynard
“Iya deh, gue ngalah….” ucap Selvia tanda tak ingin berdebat dengan Reynard
“Gue suka anget sama alunan musiknya, mengingatkan gue sama seseorang…” ucap Reynard jujur dan tanpa dia sadari keluar begitu saja dari mulutnya.
   “Oh ya?” hanya itu yang bisa dikatan oleh Selvia yang saat itu tidak begitu mendengar jelas apa yang diucapkan oleh Reynard.
“Gue biasanya main pake biola.”
‘Perasaan gue nggak ada tanya deh....’ tanya Selvia pada dirinya sendiri
“Oh ya?? Lo bisa main biola? Wah, hebat !” puji Selvia
“Ya begitulah..”
Setelah percakapan itu, hening menghiasai suasana diantara mereka berdua. Tapi, tak lama kemudian Reynard membulai pembicaraan kembali.
“Permainan piano lo tadi bagus banget, gue sampai terhanyut akan alunannya…” puji Reynard jujur dari hatinya.
“Terimakasih, bagus deh kalo lo suka” ucap Selva singkat.
TTTEEETTTT…….
Bel tanda masuk telah berbunyi. Kini saatnya bagi para murid untuk kembali kekelas masing-masing. Mendengar suara bel itu Selvia dan Reynard lekas pergi, takut jika sampai mereka terlambat masuk kelas, karena semua murid wajib kembali kekelas 5 menit sebelum bel berbunyi. Ruangan kelas Selvia berbeda lorong dengan kelas Reynard langsung berpisah ketika sampai persimpangan koridor sekolah.
            “Gue diluan ya…” ucap Selvia dan Reynard bersamaan .
            ‘A-N-E-H’ pikir Selvia
            Begitu sampai dikelas, Hesti langsung menyemburkan pertanyaan kepada Selvia.
            “Elo dari mana aja sih ?Diruang music ngapain aja? Kok lama banget?” tanya Hesti sambil berkacak pinggang didepan meja. Selvia yang ditanyai malah hanya diam dan duduk dibangkunya. Beberapa saat berlalu, akhirnya Selvia menjawab pertanyaan Hesti.
            “Bukannya gue udah bilang ke elo sebelum gue pergi tadi ?”
            “Iya, tapi kok sampai telat? Nggak biasanya. Untung aja Pak Bima belum datang”
            “Udahlah, lupain aja.” ucap Selvia lalu membuka tas punggungnya dan mengambil buku yang akan dipelajarinya.
            “Terserah lo aja” ucap Hesti mengalah, sekarng jemarinya membolak-balik lembaran buku, berpikir kira-kira apa yang akan mereka pelajari selanjutnya. Tak lama, Pak Bima datang memasuki ruangan kelas sambil menyapa murid-muridnya.
            “Siang anak-anak” sapa Pak Bima
            “Siang Pak…” balas anak-anak serempak
            “Baiklah, sampai dimana pelajaran kita sebelumnya? Dan bla…bla…bla…” lanjut Pak Bima
            Semua anak-anaak tampak memperhatikan dan mendengarkan Pak Bima memberikan penjelasan didepan kelas, tapi ada seorang anak yang tidak memperhatikan dan mendengarkan penjelesan gurunya itu. Selvia, ya Selvia sedang termenung dibangkunya. Entah apa yang sedang dipikirkannya sekarang. Dia hanya melihat keluar jendela dan menatap awan-awan yang berda diatas langit. Dia kepikiran kejdian itu lagi.Kejadian yang telah membuat dirinya tidak bisa menerima kenyataan. Kejadian yang membuat dirinya kehilangan seseorang yang sangat ia cintai dan sudah menjadi menjadi bagian dari hidupnya. Kejadian yang membuatnya dirinya kesepian.
            ‘Steve, gimana keadaan kamu disana?’ tanya Selvia. Ia tahu, Steve sudah tiada, tapi akan tetap ada dan selalu ada untuknya walau tidak nyata, melainkan sebuah kenangan indah yang tersimpan baik dihatinya. Dia ingin sekali bertemu dengan Steve. Dia rindu .
            ‘Steve, kau bisa mendengarku?’ tanyanya lagi. Dia ingin sekali berteriak saat itu juga agar Steve bisa mendengarnya. Menangis sepuasnya. Berharap Steve dapat mendengarnya. Tapi, apakah mungkin? Mungkinkah sosok yang ia rindukan kembali? Kembali padanya? Bisakah? Bisakah?
            ‘Steve, salahkah aku berharap kau akan kembali lagi?’ tanya Selvia. Lagi.
            ‘Kau gila! Kau gila Sel!’ pikir Selvia.
            ‘Aku nggak boleh nangis lagi, cukup sudah!’ teriak Selvia
            “Hhhuuhhh…..” terdengar suara hembusan nafas panjang Selvia. Sekarang ia sudah bisa mengendalikan dirinya kembali. Dia sudah bisa melupakan sejenak tentang ‘STEVE’ dari otaknya. Tapi, hanya untuk sementara. Ya, sementara…
            TTEEETTTTT……
            Akhirnya bel tanda pulang sudah berbunyi. Semua anak-anak berhamburan begitu mendenger bel sekolah berbunyi, sudah kebisaan anak-anak zaman sekarang. Tampak Selvia dan Hesti sedang berjalan keluar dari kelas mereka.
            “Sel, lo nggak pulang bareng gue? Pak Udin belum balik kan?” tawar Hesti
            “ Nggak usahlah Hes, lagian nggak mungkin gue ngerepotin elo terus-terusan” tolak Selvia
            “ Ya ampun, nggak apa-apa Sel! Elo kan sahabat gue.”
            “Nggak  usah deh Hes, makasih buat tawarannya”
            “Yaudah deh, gue diluan ya Sel”
            “ Oke…”
            Hesti langsung pergi meninggalkan Selvia menuju parkiran. Begitu Hesti pergi, Selvia langsung pergi meninggalkan sekolah . Entah kenapa, hatinya ingin pergi kesuatu tempat.
♪♫•*¨*•.¸¸❤¸¸.•*¨*•♫♪
            Selvia ternyata tidak langsung pulang. Dia terus berjalan menjauhi sekolah. Dia ingin sekali pergi ketempat itu, ingin sekali. Dia rindu tempat itu. Bisa dikatakan tempat itu sudah menjadi tempat yang dia suka dan sering dikunjunginya. Jarak tempat itu tidak begitu jauh dari sekolah, hanya butuh waktu 10 menit saja untuk sampai disana.
            Tak terasa, waktu begitu cepat berlalu. Ajhirnya Selvia sudah sampai ketempat yang dia inginkan. Ternyata sebuah taman berberntuk oval, tidak terlalu besar. Ditaman itu terdapat sebuah kolam kecil yang dilengkapi dengan sebuah pancuran air diatasnnya. Ada juga sebuah pohon tua besar yang berada diujung taman, dan sebuah bangku taman yang berada tepat dibawah pohon tua itu. Taman itu beralaskan rumput-rumput yang hijau, serta pohon-pohon kecil, dibagian dalam taman terdapat beraneka macam bunga yang mengelilingi taman berperan sebagai penghias taman.
            Selvia berjalan mendekati bangku taman yang kosong. Sambil melangkah, dia juga mengamati keadaan disekitarnya. “Nggak ada yang berubah dari taman ini” ucap Selvia perlahan. Ia juga dapat melihat burung merpati terbang diatas langityang biru . Terbang dengan bebasnya… Seluruh bunga bermekaran, dengan warna-warna yang sangat indah. Pohon-pohon yang menimbulkan efek sejuk bagi taman ini. Angin berhembus bengan sepoi lebih menambah kesejukan bagi taman. Betapa indahnya…
            Selvia langsung menduduki bangku taman itu sambil memandang keindahan alam didepannya. Memang, keistimewaan anku ini adalah letaknya yang berada dibawah pohon tua yang besar dan menghadap kedepan yang tidak lain pemandangan sebuah lahan kosong yang begitu luas dibawah taman ini. Lahan tersebut hanya dipenuhi dengan rumput hijau dan bunga matahari yang bermekaran menari dengan indahnya karena terhembus oleh angin. Perlahan Selvia memejamkan matanya, merasakan sejuknya angin yang menerbangkan sebagian helai rambutnya yang panjang.
            ‘Aku rindu suasana ini’ batin Selvia.
            “Senangnya…” ucapnya
            Selvia kembali membuka matanya yang terpejam. Berjalan perlahan meninggalkan bangku taman, dan kemudian berlari kencang kebawah menuju lahan kosong. Menjatuhkan dirinya diatas rumput, lalu merentangkan kedua tangannya seraya mengemgam erat rumput hijau . Merasakan angin yang lebih begitu kencang menerpa dirinya. Melihat langit biru dan awan-awan putih diatas sana. Dan menutup kembali matanya.
            Tak terasa sudah berapa lama dia tertidur disana, dia tersadar kembali.
            ‘ASTAGA! KETIDURAN!’ teriak Selvia. Selvia melihat jam tangan hijaunya, ternyata waktu menunjukkan pukul 4 sore. Dia langsung bangkit berdiri dan berjalan keluar dari taman itu. Tiba-tiba langkahnya terhenti.
            ‘Besok akan kesini lagi’ batin Selvia sambil tersenyum, lalu melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. Tujuannya kembali kesekolah dan menunggu bus yang akan mengantarkannya pulang..
            Selvia berjalan menelusuri jalanan yang sepi. Entah kenapa dia ingin kembali lagi ketaman, rasanya tidak ingin jauh dari taman itu. Tidak bisa, dia harus pulang sekarang pasti papa dan mamanya mengkhawatirkannya sekarang. Tunggu! Ada sesuatu ! Apa ini? Perlahan Selvia merasakan tetesan air turun dan mendarat ditelapak tangannya. Semakin lama tetesan itu jatuh begitu cepat. Selvia menghentikan langkahnya dang mendongkak keatas. Dirasakannya tetesan air hujan jatuh mengenai wajahnya.
            “Hujan….” ucapnya perlahan