“Tak bisakah kau, sedikit
saja dengar aku? Dengar simfoniku, simfoni hanya untukmu….” ucap Selvia lirih.
Dirinya tak bisa berhenti mengangis. Tak rela, tak sanggup ditinggal olehnya.
Diwaktu yang sama
Reynard sedang berjalan menuju ruang music bermaksud untuk melatih permainan
biolanya. Tiba-tiba langkahnya terhenti. Dia merasakan ada sesuatu yang aneh.
“Suara siapa itu? “
tanya Reynard pada dirinya. “ Juga ada yang memainkan lagu itu dengan piano.
Siapa yang memainkannya?” tanya Reynard lagi. “Gue harus tau siapa dia!”
teriak Reynard dalam hati penasaran. Hatinya merasakan sesuatu pada alumna
music itu. Reynard sudah tidak sabar lagi ingin mengetahui siapa yang bernyanyi
itu. Dengan hati yang tak sabaran, Reynard mempercepat langkahnya. Tidak
terasa, langkahnya telah membawanya sampai diruang music. Reynard tidak
langsung membuka pintu dan masuk kedalam. Tapi, dia berdiam sejenak sambil
mendengarkan suara itu lebih jelas lagi.
“Dia membawakan lagu itu dengan
penuh perasaan.” ucap Reynard tulus dari hatinya. Dengan penuh
keyakinan, perlahan Reynard membuka pintu dengan sangat pelan. Sambil menikmati
alunan music itu Reynard terus melangkah menuju keasal suara. Reynard terkejut
begitu mengetehui Selvia yang memainkan alunan lagu itu.
‘Apa? Jadi, dia yang
memainkannya?” batin Reynard. Tak terasa, Reynard sudah berada tepat
dibelakang Selvia. Tapi Reynard merasakan seseuatu. Suara tangis Selvia!
‘Dia memainkannya sampai
menangis? Cewek yang menarik’ ucap Reynard dalam hati. Reynard langsung
mengambil sebuah saputangan dari saku celananya. Dengan lembut, Reynard
memegang bahu Selvia dengan telapak tangan kirinya lalu memberikan saputangan
itu dengan tangan kanannya. Selvia terkejut mendapatkan sepasang tangan
memegang bahunya dan memberikan saputangan padanya.
“Hapus dulu air mata
lo” ucap Reynard yang masih memegang saputangan. Selvia tetap bergeming, dia
masih terkejut akan hal itu. “Hei…” ucap Reynard sambil melambai-lambaikan
tangan kirinya kedepan wajah Selvia.
“Eh, i-iya… makasih”
ucap Selvia yang tampaknya sudah sadar langsung mengambil saputangan itu dari
Reynard.
“Sama-sama” balas
Reynard sambil tersenyum tulus.
‘Ya ampun! Senyumnya manis
banget!’ batin Selvia. Selvia pun membalas dengan senyuman yang tak
kalah dari Reynard. Reynard yang melihat Selvia tersenyum langsung terpesona
akan senyumnya.
‘Ya Tuhan! Ternyata kalo dia lagi
tersenyum cantik banget!’ teriak Reynard dalam hati.
Selvia
langsung memakai saputangan itu lalu mengusapkannya kewajahnya yang basah
karena airmatanya. Selesai menghapus wajahnya, dia langsung memberikannya
kembali kepada pemiliknya, Reynard.
“Makasih banget ya…” ucap Selvia
berterimakasih pada Reynard.
“Iya sama-sama. Ternyata lo cantik juga ya
kalo lagi senyum, beda banget waktu lo lagi marah.” Ucap Reynard yang tidak
sengaja mengeluarkan isi hatinya keluar dari mulutnya begitu saja.
“Apa lo bilang?”
“Eh, nggak…nggak…nggak… bercanda gue”
“Gila lo!”
“Oh iya, lagu yang tadi elo mainkan tadi
barusan Simfoni Hitam kan?
‘Astaga,
dia tahu lagu itu!’
teriak Selvia dalam hati.
“Iya bener, kok lo bisa tau? Jarang banget
cowok yang denger apalagi sampai tahu lagu ini” ucap Selvia
“Gue suka sama lagu itu, salah ya?” tanya
Reynard
“Nggak sih, tapi lo kan cowok. Nggak
cocoklah.”jawab Selvia
“Suka-suka gue dong! Mau suka, mau nggak….”
bantah Reynard
“Iya deh, gue ngalah….” ucap Selvia tanda tak
ingin berdebat dengan Reynard
“Gue suka anget sama alunan musiknya, mengingatkan
gue sama seseorang…” ucap Reynard jujur dan tanpa dia sadari keluar begitu saja
dari mulutnya.
“Oh
ya?” hanya itu yang bisa dikatan oleh Selvia yang saat itu tidak begitu
mendengar jelas apa yang diucapkan oleh Reynard.
“Gue biasanya main pake biola.”
‘Perasaan gue nggak ada tanya deh....’ tanya Selvia pada dirinya sendiri
“Oh ya?? Lo bisa main biola? Wah, hebat !”
puji Selvia
“Ya begitulah..”
Setelah percakapan itu, hening menghiasai
suasana diantara mereka berdua. Tapi, tak lama kemudian Reynard membulai
pembicaraan kembali.
“Permainan piano lo tadi bagus banget, gue
sampai terhanyut akan alunannya…” puji Reynard jujur dari hatinya.
“Terimakasih, bagus deh kalo lo suka” ucap
Selva singkat.
TTTEEETTTT…….
Bel tanda masuk telah berbunyi. Kini saatnya
bagi para murid untuk kembali kekelas masing-masing. Mendengar suara bel itu
Selvia dan Reynard lekas pergi, takut jika sampai mereka terlambat masuk kelas,
karena semua murid wajib kembali kekelas 5 menit sebelum bel berbunyi. Ruangan
kelas Selvia berbeda lorong dengan kelas Reynard langsung berpisah ketika
sampai persimpangan koridor sekolah.
“Gue diluan ya…” ucap
Selvia dan Reynard bersamaan .
‘A-N-E-H’ pikir Selvia
Begitu sampai dikelas,
Hesti langsung menyemburkan pertanyaan kepada Selvia.
“Elo dari mana aja sih
?Diruang music ngapain aja? Kok lama banget?” tanya Hesti sambil berkacak
pinggang didepan meja. Selvia yang ditanyai malah hanya diam dan duduk
dibangkunya. Beberapa saat berlalu, akhirnya Selvia menjawab pertanyaan Hesti.
“Bukannya gue udah
bilang ke elo sebelum gue pergi tadi ?”
“Iya, tapi kok sampai
telat? Nggak biasanya. Untung aja Pak Bima belum datang”
“Udahlah, lupain aja.”
ucap Selvia lalu membuka tas punggungnya dan mengambil buku yang akan
dipelajarinya.
“Terserah lo aja” ucap
Hesti mengalah, sekarng jemarinya membolak-balik lembaran buku, berpikir
kira-kira apa yang akan mereka pelajari selanjutnya. Tak lama, Pak Bima datang
memasuki ruangan kelas sambil menyapa murid-muridnya.
“Siang anak-anak” sapa
Pak Bima
“Siang Pak…” balas
anak-anak serempak
“Baiklah, sampai dimana
pelajaran kita sebelumnya? Dan bla…bla…bla…” lanjut Pak Bima
Semua anak-anaak tampak
memperhatikan dan mendengarkan Pak Bima memberikan penjelasan didepan kelas,
tapi ada seorang anak yang tidak memperhatikan dan mendengarkan penjelesan
gurunya itu. Selvia, ya Selvia sedang termenung dibangkunya. Entah apa yang
sedang dipikirkannya sekarang. Dia hanya melihat keluar jendela dan menatap
awan-awan yang berda diatas langit. Dia kepikiran kejdian itu lagi.Kejadian
yang telah membuat dirinya tidak bisa menerima kenyataan. Kejadian yang membuat
dirinya kehilangan seseorang yang sangat ia cintai dan sudah menjadi menjadi
bagian dari hidupnya. Kejadian yang membuatnya dirinya kesepian.
‘Steve, gimana keadaan kamu
disana?’ tanya Selvia. Ia tahu, Steve sudah tiada, tapi akan tetap ada dan
selalu ada untuknya walau tidak nyata, melainkan sebuah kenangan indah yang
tersimpan baik dihatinya. Dia ingin sekali bertemu dengan Steve. Dia rindu .
‘Steve, kau bisa mendengarku?’
tanyanya lagi. Dia ingin sekali berteriak saat itu juga agar Steve bisa
mendengarnya. Menangis sepuasnya. Berharap Steve dapat mendengarnya. Tapi,
apakah mungkin? Mungkinkah sosok yang ia rindukan kembali? Kembali padanya?
Bisakah? Bisakah?
‘Steve, salahkah aku
berharap kau akan kembali lagi?’ tanya Selvia. Lagi.
‘Kau gila! Kau gila
Sel!’ pikir Selvia.
‘Aku nggak boleh nangis
lagi, cukup sudah!’ teriak Selvia
“Hhhuuhhh…..” terdengar
suara hembusan nafas panjang Selvia. Sekarang ia sudah bisa mengendalikan
dirinya kembali. Dia sudah bisa melupakan sejenak tentang ‘STEVE’ dari otaknya.
Tapi, hanya untuk sementara. Ya, sementara…
TTEEETTTTT……
Akhirnya bel tanda
pulang sudah berbunyi. Semua anak-anak berhamburan begitu mendenger bel sekolah
berbunyi, sudah kebisaan anak-anak zaman sekarang. Tampak Selvia dan Hesti
sedang berjalan keluar dari kelas mereka.
“Sel, lo nggak pulang
bareng gue? Pak Udin belum balik kan?” tawar Hesti
“ Nggak usahlah Hes,
lagian nggak mungkin gue ngerepotin elo terus-terusan” tolak Selvia
“ Ya ampun, nggak
apa-apa Sel! Elo kan sahabat gue.”
“Nggak usah deh Hes, makasih buat tawarannya”
“Yaudah deh, gue diluan
ya Sel”
“ Oke…”
Hesti langsung pergi
meninggalkan Selvia menuju parkiran. Begitu Hesti pergi, Selvia langsung pergi
meninggalkan sekolah . Entah kenapa, hatinya ingin pergi kesuatu tempat.
♪♫•*¨*•.¸¸❤¸¸.•*¨*•♫♪
Selvia ternyata tidak
langsung pulang. Dia terus berjalan menjauhi sekolah. Dia ingin sekali pergi
ketempat itu, ingin sekali. Dia rindu tempat itu. Bisa dikatakan tempat itu
sudah menjadi tempat yang dia suka dan sering dikunjunginya. Jarak tempat itu tidak
begitu jauh dari sekolah, hanya butuh waktu 10 menit saja untuk sampai disana.
Tak terasa, waktu
begitu cepat berlalu. Ajhirnya Selvia sudah sampai ketempat yang dia inginkan.
Ternyata sebuah taman berberntuk oval, tidak terlalu besar. Ditaman itu terdapat
sebuah kolam kecil yang dilengkapi dengan sebuah pancuran air diatasnnya. Ada
juga sebuah pohon tua besar yang berada diujung taman, dan sebuah bangku taman
yang berada tepat dibawah pohon tua itu. Taman itu beralaskan rumput-rumput
yang hijau, serta pohon-pohon kecil, dibagian dalam taman terdapat beraneka
macam bunga yang mengelilingi taman berperan sebagai penghias taman.
Selvia berjalan mendekati
bangku taman yang kosong. Sambil melangkah, dia juga mengamati keadaan
disekitarnya. “Nggak ada yang berubah dari taman ini” ucap Selvia perlahan. Ia juga dapat melihat burung merpati terbang
diatas langityang biru . Terbang dengan bebasnya… Seluruh bunga bermekaran,
dengan warna-warna yang sangat indah. Pohon-pohon yang menimbulkan efek sejuk
bagi taman ini. Angin berhembus bengan sepoi lebih menambah kesejukan bagi
taman. Betapa indahnya…
Selvia langsung
menduduki bangku taman itu sambil memandang keindahan alam didepannya. Memang,
keistimewaan anku ini adalah letaknya yang berada dibawah pohon tua yang besar
dan menghadap kedepan yang tidak lain pemandangan sebuah lahan kosong yang
begitu luas dibawah taman ini. Lahan tersebut hanya dipenuhi dengan rumput
hijau dan bunga matahari yang bermekaran menari dengan indahnya karena
terhembus oleh angin. Perlahan Selvia memejamkan matanya, merasakan sejuknya
angin yang menerbangkan sebagian helai rambutnya yang panjang.
‘Aku rindu suasana ini’
batin Selvia.
“Senangnya…” ucapnya
Selvia kembali membuka
matanya yang terpejam. Berjalan perlahan meninggalkan bangku taman, dan
kemudian berlari kencang kebawah menuju lahan kosong. Menjatuhkan dirinya
diatas rumput, lalu merentangkan kedua tangannya seraya mengemgam erat rumput
hijau . Merasakan angin yang lebih begitu kencang menerpa dirinya. Melihat
langit biru dan awan-awan putih diatas sana. Dan menutup kembali matanya.
Tak
terasa sudah berapa lama dia tertidur disana, dia tersadar kembali.
‘ASTAGA! KETIDURAN!’
teriak Selvia. Selvia melihat jam tangan hijaunya, ternyata waktu menunjukkan
pukul 4 sore. Dia langsung bangkit berdiri dan berjalan keluar dari taman itu.
Tiba-tiba langkahnya terhenti.
‘Besok akan kesini
lagi’ batin Selvia sambil tersenyum, lalu melanjutkan langkahnya yang sempat
terhenti. Tujuannya kembali kesekolah dan menunggu bus yang akan mengantarkannya
pulang..
Selvia berjalan
menelusuri jalanan yang sepi. Entah kenapa dia ingin kembali lagi ketaman,
rasanya tidak ingin jauh dari taman itu. Tidak bisa, dia harus pulang sekarang
pasti papa dan mamanya mengkhawatirkannya sekarang. Tunggu! Ada sesuatu ! Apa
ini? Perlahan Selvia merasakan tetesan air turun dan mendarat ditelapak
tangannya. Semakin lama tetesan itu jatuh begitu cepat. Selvia menghentikan
langkahnya dang mendongkak keatas. Dirasakannya tetesan air hujan jatuh
mengenai wajahnya.
“Hujan….” ucapnya perlahan