So beautuful view in the world

So beautuful view in the world

Sabtu, 28 Januari 2012

Simfoni Hitam♪♫❤♫♪ Part 1

SIMFONI HITAM

                        Damn, Damn, Damn
                        What I do to have you
                        Here, Here, Here
                        I wish you were here
                        Damn, Damn, Damn
                        What I do to have you
                        Near, Near, Near
                        I wish you were here……..
                                                                                    Avril Lavigne-Wish You Were Here
Disekolah, tepatnya di SMA Erlangga….
Ruang itu sudah sepi sejak 1 jam yang lalu. Tak ada satu orang pun yang tinggal. Hanya seorang cewek didalam ruangan itu. Selvia Liwinsky sedang melamun dibangkunya sambil memandang keluar jendela. Dia sedang menunggu jemputan yang tak kunjung datang.
            “Don’t know, Don’t know if I can do this on my own. Why do you have to leave me?” terdengar nada dering handphone Selvia. Mendengar handphonenya berbunyi, Selvia lansung mengangkatnya.
“Iya, halo Ma…?” ternyata panggilan dari mamanya. “oh… yaudah deh Ma, Selvia bisa pulang naik bus kok. Bye…..” klik! Telepon sudah ditutup oleh Selvia. Dia mendapatkan kabar dari mamanya bahwa supir keluarga mereka sedang ada urusan mendadak. Jadi, Selvia harus pulang naik bus kali ini.
♪♫•*¨*•.¸¸¸¸.•*¨*•♫♪
            Keesokan harinya….
            “SSEELLVVIIIAAA!!!” terdengar teriakan seorang cewek dari belakang. Selvia langsung menoleh begitu tahu ada yang menmanggil namanya. Cewek itu langsung berlari menghampiri Selvia dengan nafas yang masih terngopoh-ngopoh.
            “Ih… lo nggak dengerin gue manggilin elo dari tadi?” ucap cewek itu
            “Baru tadi gue denger…” jawab selvia santai
            “Gue sampe teriak gitu, juga!”
            “Iya deh, gue minta maaf ya Hesti Junita….”
            “Dasar!” ternyata nama cewek itu Hesti Junita, yang biasanya dipanggil dengan sebutan ‘Hesti’. Hesti adalah sahabat Selvia sejak kelas 2 SMP sampai sekarang. Mereka selalu akrab, mengerti satu sama lain, menghormati dan saling menyayangi.
            “Masuk yuk!” ajak Hesti yang hanya dibalas dengan anggukan dari Selvia.
Tiba-tiba….
BBBRRRUUKKKK!!!
            “AAwww…” ucap Selvia menggerang kesakitan. Baru saja ia ditabrak oleh seorang cowok.
            “Sorry….sorry….” ucap cowok itu sambil mengulurkan tangannya pada Selvia.
            “Kalo jalan liat-liat dong! Jangan asal main tabrak aja!” bentak Selvia pada cowok itu.
            “Gue bener-bener nggak sengaja…”
            “Alah! Alasan aja lo!”
            “Gue…”
            “Ayo kita pergi dari sini, Hes…”ajak Selvia sambil menarik pergelangan tangan Hesti dan menggemgamnya erat-erat. Hesti yang merasa sakit akibat perlakuan Selvia mencoba melepaskan tangannya.
            “Aaaa! Apa-apaan sih lo, Sel? Lepasin tangan gue! Sakit tau!”
            “Sorry, Hes… Tadi gue kebawa emosi.”ucap Selvia sambil melepaskan tangan Hesti.
            “Tapi tadi cowok itu udah minta maaf sama elo, Sel..”
            “Gue gak mau bahas itu lagi, Hes…”
            “Sorry Sel…”
            “Iya …..”
♪♫•*¨*•.¸¸¸¸.•*¨*•♫♪
TTEEETTTT……
Terdengar suara bel sekolah berbunyi. Waktunya bagi murid SMA Erlangga untuk pulang. Selvia dan Hesti berjalan bersama menyusuri koridor.
            “Hari ini lo dijemput sama pak Udin, Sel?” tanya Hesti.
            “Hari ini gue pulang naik bus, pak Udin lagi ada urusan pribadi” jawab Selvia.
            “Pulang bareng gue aja, yuk…”
            “ Emm, nggak usah deh, Hes. Ntar ngerepotin.”
            “ Yaelah, sama teman sendiri juga… Ayolah….”
            “Iya deh….” akhirnya Selvia menirima tawaran dari Hesti.
            “Tunggu sebentar ya, Sel… gue mau ambil mobil dulu”
            “Cepetan ya Hes…”
            Setelah kepergian Hesti, tiba-tiba hujan deras datang. Selvia tak tau harus berteduh dimana. Dia pergi kedepan sekolah untuk mencari tempat yang cocok dijadikan tempat berteduh.
Tiba-tiba….
            BBRRUUKKK! Astaga! Terulang kembali !
            “ AAww” teriak Selvia kesakitan
            “ Sorry… Sorry… Sorry…” ucap cowok itu sambil mengulurkan tangganya pada Selvia. Saat itu juga Selvia langsung mendongakkan kepalanya melihat siapa yang menabraknya kali ini.
            ‘ Astaga, dia lagi… dia lagi….’ ucap Selvia dalam hati.
            “Iihhh! Elo itu suka nabrak orang ya?”
            “Sorry… Swear! Gue gak sengaja…”
            “ Sorry… sorry.. sorry…! Lo nggak lihat apa? Gue jatuh udah 2 kali gara-gara elo!”
            “Gue minta maaf banget…. Gue nggak sengaja nabrak elo”
            “ Makanya, lain kali kalo jalan itu lihat-lihat!”
            “Iya deh…”
            “ Ingat baik-baik!”
            “ Iya…”
            Hening sesaat, yang terdengar hanyalah gemercik air hujan. Cowok itu mulai bicara.
            “Eemm, kalo boleh tau nama elo siapa?” tanya cowok itu kepada Selvia. Selvia hanya diam saja, karena dia berfikir pertanyaan itu bukan ditujukan untuk dirinya. Karena merasa kesal pertanyaannya tidak dijawab, cowok itu membentak Selvia.
            “WWWOOIIII!!! Lo denger gue nggak sih?” bentak cowok itu.
            “ Lo nanya sama gue?” tanya Selvia balik.
            “Jadi maksud lo siapa lagi? Setan?”
            “ Mana gue tau! Bisa aja elo nanyanya sama setan. Nama gue Selvia, emang kenapa?”
            “Oohh, Cuma pengen tanya aja..”
            “Elo?”
            “Gue Reynard”
            “Ohhh.”
            TIN…TIN….. Terdengar bunyi klakson mobil. Ternyata itu bunyi mobilnya Hesti. Mendengar bunnyi itu, Selvia langsung pergi .
♪♫•*¨*•.¸¸¸¸.•*¨*•♫♪
Dikamar Reynard…
            Reynard termenung dikamarnya. Pikirannya entah kemana. Munkin, ia sedang memikirkan cewek yang ditabraknya hari ini. Baru kali ini dia secara tidak sengaja menabrak cewek itu, 2 kali pula. Memang cewek itu cantik, berkulit putih, tinggi pula.
            ‘Cewek itu cantik juga…’ batin Reynard sambil tersenyum sendiri.
            Diwaktu yang sama, Selvia juga termenung dikamarya karena memikirkan betapa sialnya dia hari ini. Sudah 2 kali ditabrak oleh orang yang sama pula!
            “Aneh, kenapa hari ini gue ketabrak terus ya?” tanya Selvia kepada dirinya sendiri. Karena capek memikirkan hal itu, Selvia memutuskan untuk tidur saja.
♪♫•*¨*•.¸¸¸¸.•*¨*•♫♪
Keesokkan harinya…
            Pagi ini, Mama dan Papa Selvia terlihat sedang berkumpul diruang dapur. Lebih tepatnya dimeja makan. Selvia juga baru keluar dari kamarnya.
            “Pagi Mama!” sapa Selvia sambil mencium pipi mamanya yang sedang berdiri menyiapkan sarapan.
            “Pagi juga sayang” jawab mamanya.
            “Pagi Papa!” sapa Selvia beralih pada papanya yang sedang membaca koran.
            “Pagi juga sayang” jawab papanya.
            “Yuk, sarapan dulu…” ajak mamanya.
            “Sipp, Ma!”
            “Sel, 5 menit lagi kita berangkat ya…” ucap papanya.
            “Iya, Pa..”
            5 menit berlalu, Selvia dan papanya selesai sarapan. Mereka langsung berpamitan kepada sang mama dan sang istri.
            “Papa berangkat dulu ya, Ma…” ucap Papa sambil mencium keing Mama.
            “Selvia juga berangkat dulu ya Ma…” ucap Selvia sambil mencium tangan mamanya.
            “Hati-hati dijalan ya…” jawab Mama.
            Selvia bergegas dan langsung menaiki mobil papanya. Perjalanan untuk sampai kesekolah memakan waktu 20 menit. Selama diperjalanan Selvia dan papanya bercanda ria dimobil. Tak terasa 20 menit berlalu, akhirnya Selvia harus turun dari mobil.
            “Bye…Pa…” pamit Selvia sambil membuka pintu mobil.
            “Bye…sayang…” balas papanya
            Selvia menutup kembali pintu mobil, langsung berjalan memasuki sekolah. 2 menit berlalu, Selvia pun sampai dikelas dan langsung disambut oleh sahabatnya itu.
            “Pagi Sel…” sapa Hesti pada Selvia.
            “Pagi juga Hes…” balas Selvia sambil memberikan sebuah senyuman pada sahabatnya itu.
            “Kayaknya ada yang lagi seneng nih…” goda Hesti
            “Ah lo bisa aja”
            “Oh iya, gue mau tanya sesuatu sama lo, Sel”
            “Mau tanya apa Hes?”
            “Kemaren waktu gue lagi ngambil mobil diparkiran, lo ngobrol sama siapa?”
            “Ohh,,, kemaren tuh kan gue lagi berteduh, terus…”
TTEEETTTT……
            Terdengar suara bel tanda masuk telah berbunyi. Semua anak-anak kelas XI IPA-3 langsung duduk manis ditempatnya masing-masing. Pembicaraan Selvia dan Inri terpaksa ditunda, karena Pak Samyudin selaku guru matematika sudah datang.
            “Pagi anak-anak…” sapa Pak Syamsudin kepada anak-anak.
            “Pagi Pak…” anak-anak menyapa balik Pak Syamsyudin
            “Ayo, buka buku bacaan kalian hal…bla…bla..bla…”
            “Baik Pak…” jawab anak-anak langsung membuka bukunya.
♪♫•*¨*•.¸¸¸¸.•*¨*•♫♪
TTEEETTTT……
            Terdengar suara tanda bel istirahat telah berbunyi. Setelah pelajaran matematika usai, semua anak-anak kelas XI IPA-3 langsung pergi keluar . Hanya terdapat beberapa anak saja yang tetap tinggal dikelas, termasuk Selvia dan Hesti.
            “Hes, gue pengen keruang music.” ucap Selvia
            “Perlu gue temenin, Sel?” tawar Hesti
            “Nggak usah deh Hes… gue pergi dulu ya…” tolak Selvia yang langsung berpamitan kepada sahabatnya itu.
            “Yaudah deh…” jawab Hesti.
            Sesudah mendengar jawaban dari Hesti, Selvia langsung berjalan menuju ruang music. 7 menit waktu yang diperlukan untuk sampai ke ruang music. Akhirnya Selvia sampai juga ketempat tujuannya. Tepat didepan ruang music, dia mengintip sebentar dari jendela yang ternyata tak ada seorang pun didalam.
            ‘Yes! Kosong! Nggak ada orang didalem’  teriak Selvia dalam hati.
            Inilah hal yang paling disukai oleh Selvia, sepi dan sunyi… Jadi tidak akan ada seorang pun yang mengganggunya. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Selvia langsung membuka pintu dan masuk kedalamnya. Dia langsung mencari piano, dia duduk dan membuka penutup piano itu. Diruang music ini hanya terdapat 1 piano saja dan itu juga jarang sekali anak yang memakainya. Selvia langsung menekan tuts-tuts piano dengan lincah. Tak heran, Selvia memang suka bermain piano. Baginya piano sudah menjadi teman hidupnya disaat suka maupun duka dengan kata lain sebagai teman tempat mencurahkan isi hati dan pikirannya. Dia memainkan lagu kesukaanya.

            Malam sunyi kuimpikanmu
Kulukiskan kita bersama
Namun s’lalu aku bertanya
Adakah aku dimimpimu
Dihatiku terukuir namamu
Cinta rindu beradu satu
Namun s’lalu aku bertanya
Adakah aku dihatimu
T’lah kunyanyikan alunan-alunan senduku
T’lah kubisikkan cerita-cerita gelapku
T’lah kuabaikan mimpi-mimpi dan ambisiku
Tapi mengapa kutakkan bisa
Sentuh hatimu
                                                                                    Simfoni Hitam-Sherina
            Tidak disangka, Selvia menangis bersama lagu itu. Selvia memang selalu seperti itu, apalagi setelah orang yang dicintainya telah pergi meninggalkan dirinya untuk selamanya.